Resensi Novel "Robohnya Surau Kami"
Robohnya Surau Kami
Di suatu daerah hiduplah seorang
kakek yang menjadi garin,penjaga surau. Dia menjadi penjaga surau tidak
mendapatkan honor atau gaji apapun. Dia hidup mengandalkan dari sedekah,yang
hanya sekali pada hari Jumat. Pekerjaan sambilannya yaitu menjadi pengasah
pisau. Apabila yang meminta tolong perempuan biasanya diberi sambal,berbeda
dengan laki-laki biasanya ia diberi rokok. Tapi yang paling sering diterimanya
adalah ucapan terimakasih dan sedikit senyuman.
Suatu ketika,kakek terlihat
murung,sedih,kesal dan bermuram durja. Ia duduk termenung di surau dengan
ditemani beberapa peralatan asahan dan pisau cukur tua yang berserakan di
sekitar kaki kakek. Ternyata ia baru saja bertemu dan berbicara dengan Ajo
Sidi,si pembual cerita. Hari itu kakek yang dijadikan bualan ceritanya,yang
pada akhirnya semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk
diejek dan ceritanya menjadi pemeo atau semacam cerita yang menyindir
pendengar.
Ajo Sidi,si pembual itu menceritakan
seseorang bernama Haji Shaleh,yang dulunya di dunia selalu beribadah
kepadaNya,taat menjalankan perintahNya dan selalu taqwa. Namun di akhirat ia
malah dimasukkan ke dalam neraka ,padahal ia yakin sekali ia akan dimasukkan ke
surga. Dia tidak pernah mengingat anak dan istrinya,dia pun tidak pernah
memikirkan hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir dan batin diserahkan
kepadaNya.Dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Bahkan dia juga tidak
pernah membunuh seekor lalat pun. Dia selalu bersujud,memuji dan berdoa
kepadaNya. ,sehingga kehidupan di dunia tidak difikirkan serta anak dan
istrinya pun tidak pernah diingatnya. Ia dimasukkan ke dalam neraka di bagian
keraknya.
Setelah mendengar cerita dari Ajo
Sidi,kakek hanya merenung dan memikirkannya seolah ia merasakan apa yang
dirasakan Haji Sholeh. Keesokan harinya kakek mengakhiri hidupnya dengan
menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Berita kematian kakek sudah
menyebar ke seluruh kampung. Semua warga mengantar jenazah kakek ke tempat
peristirahatan terakhir. Namun Ajo Sidi tidak ikut mengantarkan melainkan ia
malah pergi bekerja dan sebelum bekerja ia menyuruh istrinya agar membelikan
kain kafan untuk mengafani jenazah kakek. Setelah itu ia kembali bekerja.
Komentar
Posting Komentar